Tips Membuat Persuasive Copywriting Untuk Meningkatkan Penjualan Produk

3 min read

Tips Membuat Persuasive Copywriting

Sebagai bagian dari konsep pemasaran, copywriting memegang peranan penting. Apalagi di era digital seperti sekarang di mana produk banyak dipasarkan secara online melalui website, ecommerce, blog, dan social media. Kemampuan copywriting sangat berpengaruh pada penjualan sebuah produk. Tentu saja ini merupakan tantangan bagi pelaku bisnis di era digital ini.

Rata-rata, orang akan mengabaikan sekitar 45% headline blog yang mereka baca. Alasannya sederhana, karena tidak menarik minat baca mereka. Dari headline saja sudah bisa menentukan berapa banyak orang yang akan mendapat informasi tentang sebuah produk. Berikut ini akan diulas peranan copywriting dalam meningkatkan penjualan dan bagaimana membuat copy yang baik.

Nilai Sebuah Copywriting

Bagi yang masih awam tentang copywriting, maka bisa diartikan sebagai kemampuan seseorang menulis tentang sesuatu untuk tujuan penjualan. Jadi jelas bahwa sebuah ulasan produk harus berujung pada penjualan dari produk tersebut. Maka, penulisan harus kreatif, persuasif, dan atraktif. Kata demi kata yang dirangkai harus bisa memancing minat baca calon pembeli.

Bisnis di era digital sangat bergantung pada konten. Baik itu konten di media sosial, blog, atau website perusahaan. Sebuah konten yang diminati calon pelanggan adalah yang mengulas masalah konsumen, kelebihan produk, solusi yang ditawarkan produk serta bukti nyata bahwa produk memang seperti apa yang dibicarakan. Setidaknya inilah hal-hal yang harus diulas oleh seorang copywriter.

Jadi, nilai sebuah copy bisa tinggi jika terbukti meningkatkan penjualan. Atau jika terbukti bisa menarik minat orang yang tadinya sama sekali tidak tahu mengenai produk untuk mengenal lebih jauh dan akhirnya membeli. Maka dari itu, kreativitas dalam merangkai kata dalam copywriting sangat dibutuhkan.

Cara Membuat Persuasive Copy

Persuasive copy adalah tulisan yang bisa mendongkrak penjualan karena berhasil mendorong seseorang membeli sesuatu. Berikut ini beberapa tips yang bisa dicoba untuk bisa menghasilkan persuasive copy:

1. Tentukan Segmentasi Pembaca

Sebelum tenggelam dalam riset mengenai artikel yang akan ditulis lebih baik susun dulu parameter yang dibutuhkan. Di awal, tentukan konsumen jenis mana yang akan diberi artikel tentang produk. Cari tahu siapa konsumen dari produk yang akan diulas. Dengan mengetahui jenis konsumen, maka diketahui pula seperti apa kebutuhan konsumen dimaksud.

Segmen konsumen yang ada di pasar umumnya adalah konsumen baru, konsumen setia, konsumen yang enggan, dan konsumen pasif. Konsumen baru adalah mereka yang cenderung memiliki keraguan akan sebuah produk dan membandingkan dengan produk lain. Maka, artikel harus menggiring mereka untuk memilih produk yang sedang diulas dari produk lain yang sejenis.

Sedangkan pada konsumen setia, seorang copywriter harus bisa memetakan seperti apa produk yang sesuai dengan riwayat pembelian mereka. Cari tahu juga rentang waktu pembelian yang dilakukan oleh konsumen setia ini. Kemudian pada konsumen pasif, cari tahu mengapa mereka berhenti membeli dan berapa banyak total pembelian terakhir mereka. Maka, artikel harus memancing mereka untuk membeli lagi.

Pada konsumen yang enggan, di mana mereka merasa tidak perlu lagi membeli barang baru, maka artikel harus bisa menangkal keengganan mereka. Jika bisa, artikel harus menghilangkan segala hal yang membatasi mereka dari membeli produk. Misalnya, rasa khawatir jika produk tidak memuaskan. Dengan mengenali segmentasi konsumen ini, akan lebih mudah bagi copywriter untuk menyusun artikel.

2. Lakukan Riset Kualitatif

Riset kualitatif sangat penting dalam membuat copy. Menurut Joel Klette dalam Business Casual Copywriting and Case Study Buddy menjelaskan betapa riset kualitatif bisa menentukan jawaban bahkan sebelum menguji pertanyaan-pertanyaan yang ada. Beberapa elemen penting dalam melakukan riset kualitatif adalah wawancara internal, survey, wawancara konsumen, serta testimony dan peninjauan kembali.

Wawancara internal berarti melakukan tanya jawab dengan pihak-pihak internal perusahaan yang terlibat dengan penjualan produk dan konsumen. Hal ini bisa membantu memberi pemahaman mengenai apa yang berjalan dengan baik dan yang tidak. Survey bisa dilakukan setelah pertanyaan-pertanyaan disusun dengan didasarkan pada variabel-variabel penentu. Disarankan menggunakan model yes/no atau setuju/tidak setuju agar survey lebih simple.

Sementara itu, wawancara dengan konsumen bertujuan untuk mengkonfirmasi hasil survey. Pada perusahaan kecil, wawancara konsumen bisa berjalan dengan efektif. Namun pada perusahaan besar, dibutuhkan waktu yang lebih banyak untuk bisa menjangkau semua konsumen yang bisa diwawancara. Selektiflah dalam memilih siapa yang akan diwawancara dan siapkan pertanyaan dengan baik dan cermat.

Testimoni bisa didapatkan dari pihak ketiga. Misalnya, sebuah produk yang dijual di ecommerce biasanya memiliki kolom komentar, lihatlah bagaimana respon pembeli di situ. Selain itu, carilah di mesin pencari review dari konsumen mengenai produk yang sudah terjual. Review ini bisa dilihat dari sosial media atau blog. Testimoni ini mirip feedback dari konsumen mengenai produk yang nantinya diulas.

3. Lakukan Identifikasi

Setelah memperoleh banyak data dari survey yang dilakukan, langkah selanjutnya adalah melakukan identifikasi. Tahapan ini bisa membuat mata lelah karena banyaknya data yang harus diolah dalam satu artikel. Pertama-tama, petakan kata atau frasa yang unik dan selalu muncul kemudian catat semua poin yang sering muncul atau berulang.

Identifikasi juga berguna untuk memahami bahasa yang digunakan oleh audiens. Mengapa mereka mengatakan tentang sesuatu hal. Hal ini akan sangat membantu membuat artikel yang seolah-olah berbicara dalam bahasa konsumen. Namun, perlu kehati-hatian agar tidak malah memasukkan asumsi pribadi ke dalam artikel.

Semua yang ditulis dalam copy haruslah berdasarkan dari hasil riset. Transformasi dari perkataan konsumen ke dalam artikel tidak boleh menyimpang walaupun artikel akan menonjolkan sisi persuasifnya. Buatlah spreadsheet yang memuat kelompok segmen dan poin apa yang mereka katakan tentang produk. Ini akan membantu dalam hal membuat identifikasi.

4. Tentukan Tingkatan Pesan

Tingkatan pesan atau messaging hierarchy adalah menentukan mana informasi yang paling penting ditampilkan berdasarkan data yang diperoleh. Dalam sebuah artikel, ada poin-poin penting yang disusun berdasarkan prioritas. Tampilkan yang paling tinggi prioritasnya di awal dan sisanya sebagai pendukung poin terpenting tadi. Semakin solutif atau semakin tinggi benefit dari sebuah poin pembahasan, maka itulah yang harus ditampilkan lebih dulu.

Jangan sampai pembaca tidak menyelesaikan bacaannya padahal poin pentingnya belum tersampaikan. Maka, penting untuk menampilkan poin penting ini sejak di headline atau judul. Seperti telah diungkapkan di atas bahwa rata-rata orang meninggalkan bacaanya sebelum bacaan itu habis. Mereka tidak peduli dengan sisa informasi karena dianggap tidak solutif sejak awal.

Peningkatan penjualan berkat teknik persuasive copywriting sangat marak saat ini. Maka, seseorang dengan kemampuan ini banyak dicari perusahaan-perusahaan baik besar maupun kecil. Semua produk hampir dipastikan memerlukan persuasive copywriting ini jika ingin konsumen tahu dan membeli produk tadi. Keahlian membuat copy seperti ini hanya dimiliki oleh mereka yang kreatif dan mampu melihat sesuatu dari banyak perspektif.

 

Writer: Nadia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *