3 Formula Jitu Menulis Artikel yang Logis dan Mudah Dipahami

2 min read

Menulis Artikel

Pernahkah merasa lelah dan bingung ketika membaca sebuah artikel? Jika pernah, artinya artikel itu tidak ditulis dengan alur yang benar. Artikel yang baik bisa mempertahankan pembaca sampai ke kalimat terakhir.

Untuk bisa membawa pembaca sampai ke akhir, artikel harus logis, mudah dipahami, dan tidak menimbulkan lonjakan emosi yang tiba-tiba. Artikel yang baik mampu mengalir dengan wajar dan enak dibaca. Seperti apa sebenarnya formulanya? Simak penjelasan di artikel ini, ya.

Ciptakan Alur yang Logis dalam Penulisan Artikel

Alur atau dikenal juga dengan sebutan plot adalah rangkaian kejadian atau peristiwa yang menggerakkan tulisan. Dalam tulisan fiksi, alur ini bisa maju, mundur atau maju mundur. Namun tidak begitu dalam sebuah artikel yang notabene termasuk dalam tulisan non fiksi.

Alur dalam sebuah artikel harus logis dan mengalir dengan runut. Penulis artikel yang baik harus mampu menyajikan rangkaian peristiwa atau menjabarkan sebuah masalah dengan logis. Logis disini adalah sesuai dengan nalar dan mampu dicerna dengan baik oleh pembaca.

Sebagai contoh, sebuah artikel membahas tentang pengaruh promosi penjualan terhadap keputusan pembelian konsumen. Maka, penulis harus menjelaskan dulu apa itu promosi penjualan dan keputusan pembelian. Baru setelah itu tuliskan gagasan atau ide tentang pengaruh dua variabel di atas. Harus ada kesinambungan.

Setiap paragraf harus dilompati dengan sebuah penghubung. Analoginya adalah menyebrangi sungai dengan melompati batu-batu yang membentang di tengah sungai itu. Penghubung membuat alur terasa smooth, logis, dan tidak melelahkan.

Formula Membuat Alur yang Logis Pada Artikel

Tidak terlalu sulit membuat alur yang logis asalkan tahu formulanya. Penjelasan di bawah ini akan memberikan sedikit gambaran mengenai apa saja yang harus dilakukan dalam membuat alur yang logis.

1. Membuat Urutan Paragraf yang Logis

Sebelum benar-benar menulis, ada baiknya membuat plot point terlebih dahulu. Hal ini bisa memudahkan ketika ide-ide pokok setiap paragraf telah dituliskan. Ingat bahwa ide pokok pada setiap paragraf ini harus berkesinambungan dan runut.

Misalnya ketika ingin mengulas tentang sebuah tempat ngopi unik di sebuah kota, mulailah dengan menulis tentang kotanya dulu baru kemudian tentang tempat ngopi. Urutkan pembahasan secara logis dan tidak melompat-lompat.

Contohnya seperti ini:

Berkunjung ke Jogja tidak lengkap tanpa melipir ke Prambanan tepatnya di seputaran Pakem. Tempat favorit pesepeda ini memiliki landscape yang indah dengan persawahan dan rumah-rumah khas pedesaan.

Tidak heran jika Pakem jadi favorit para bikers ini untuk sarapan pagi, ngopi dan makan siang. Ada sebuah tempat bernama Kopi Klotok menjadi destinasi wajib para bikers jika sedang berkunjung ke Pakem. Kopi disini tidak aneh-aneh, namun sensasi setelah minum kopi di Pakem tidak mungkin dilupakan.

Potongan artikel di atas mencerminkan kesinambungan dari lompatan plotnya. Di paragraf pertama, dijelaskan bahwa ada tempat bernama Pakem di Jogja. Di paragraf selanjutnya, menjelaskan tempat ngopinya yang jadi favorit para bikers.

Perspektif, gaya penulisan, tanda baca, spasi, kata penghubung, sangat berpengaruh terhadap transisi plot ke plot. Maka, jangan lupakan hal-hal seperti ini ketika membangun sebuah urutan paragraf yang logis.

2. Gunakan Teknik Show Don’t Tell

Istilah show don’t tell ini sudah akrab di kalangan penulis, namun kali ini akan dibahas kembali. Tulisan dengan teknik Showing lebih menarik untuk dibaca daripada hanya sekedar Telling. Showing atau memperlihatkan membuat pembaca lebih engage dengan artikel atau tulisan yang dibuat.

Contohnya, sebuah kalimat ingin menjelaskan tentang tempat ngopi di Pakem bernama Kopi Klotok. Telling hanya akan menuliskan, Kopi Klotok berlokasi di Pakem. Bukan berarti tidak boleh menulis dengan teknik telling. Gunakan teknik telling untuk hal-hal yang tidak esensial atau tidak perlu penjabaran lebih lanjut.

Berbeda dengan teknik telling, teknik showing akan menulis seperti ini:

Berlokasi di tengah-tengah area persawahan yang merupakan area mampir dan ngumpul favorit para bikers di Pakem, Kopi Klotok menasbihkan diri sebagai tempat ngopi sekaligus ngumpul yang sebenarnya.

Artikel dengan gaya penulisan showing biasanya lebih memikat di mata pembaca. Pembaca jadi betah untuk terus mengikuti alur cerita si Penulis. Biasanya, untuk menggambarkan suasana, peristiwa, kejadian, proses, atau juga rasa, teknik showing lebih berhasil.

3. Tempatkan diri Pada Posisi Pembaca

Setelah artikel selesai ditulis, endapkan dulu selama 1-2 hari kemudian baca kembali. Tempatkan diri seolah-olah sebagai pembaca. Rasakan apakah alur terasa lambat, membosankan, atau malah terlalu cepat. Kaji ulang apakah gaya penulisan menarik dan bahasa mudah dipahami.

Pada dasarnya, pembaca menyukai artikel yang ditulis dengan lugas, sederhana dan tidak bertele-tele. Misalnya, informasi yang sudah ditulis pada paragraf sebelumnya tidak perlu diulang pada pembahasan selanjutnya. Membaca harus menjadi sebuah kegiatan yang menyenangkan bagi pembaca.

Oleh karena itu, penting untuk bisa menempatkan diri di posisi pembaca. Penulis memang selalu ingin apa yang ada di pikirannya tertuang dalam tulisannya. Namun, banyak yang mengabaikan kemampuan pembaca untuk mencerna informasi dari gaya bahasa dan alur yang dibuat.

Maka dari itu, artikel harus menarik dan persuasif. Membuat artikel yang menarik dan persuasif adalah dengan membangun alur yang logis tadi. Lompatan-lompatan plot yang runtut dan logis akan membuat pembaca bertahan sampai kalimat terakhir.

Setidaknya, tiga formula di atas bisa diaplikasikan untuk menghasilkan alur artikel yang logis. Jangan lupa juga untuk memperhatikan panjang paragraf, penggunaan kata penghubung, tanda baca, dan juga spasi. Kenali target pembaca dan tema yang diusung agar bisa menentukan gaya bahasa yang dipilih. Selamat menulis!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *